AkuratMaluku.com – Perjuangan Pratu Andi Syarif Bugis melawan kondisi kritis selama beberapa hari di RSUD Bintuni, Papua Barat, berakhir duka. Prajurit TNI AD asal Negeri Tehua itu mengembuskan napas terakhir pada Sabtu pagi (17/10/2026), meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat Maluku.
Salah satu anggota keluarga almarhum yang dihubungi media ini Sabtu (17/10/26) mengatakan, Andi Syarif meninggal dunia di RSUD Bintuni pada Sabtu pagi. Saat ini, keluarga tengah mengurus proses pemulangan jenazah dari Bintuni, Papua Barat, ke Negeri Tehua, Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah, untuk dimakamkan di kampung halamannya.
Kepergian prajurit yang bertugas di Brigif 26 Gurana Piarawaimo, Bintuni, tersebut tidak hanya menyisakan kesedihan bagi keluarga, tetapi juga pertanyaan mengenai peristiwa yang menyebabkan dirinya mengalami kondisi kritis hingga akhirnya meninggal dunia.
Sebelumnya, Andi Syarif dilaporkan mengalami kondisi serius setelah dugaan penganiayaan yang disebut terjadi di lingkungan tempatnya bertugas. Keluarga sejak awal mendesak agar Polisi Militer (POM) mengusut secara menyeluruh peristiwa yang menimpa korban.
Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi pada awal Oktober 2026 di Kabupaten Teluk Bintuni. Korban mulai menjalani perawatan di RSUD Bintuni pada 3 Oktober 2026. Namun, kronologi lengkap kejadian serta penyebab pasti kondisi yang dialaminya masih memerlukan penjelasan resmi berdasarkan hasil pemeriksaan dan penyelidikan pihak berwenang.
Sebelum korban meninggal dunia, keluarga sempat mempertanyakan keterangan yang disampaikan seorang komandan regu (Danru) melalui sambungan telepon mengenai dugaan keracunan alkohol.
Menurut penuturan keluarga, informasi tersebut disampaikan setelah mereka memperoleh kabar mengenai aktivitas minum-minuman bersama sejumlah rekan korban. Keluarga mempertanyakan keterangan tersebut karena, berdasarkan informasi yang mereka terima, korban mengalami kondisi serius dan ditemukan lebam pada sejumlah bagian tubuhnya.
Keluarga juga menduga korban mengalami kekerasan fisik. Namun, dugaan pemukulan dan bentuk kekerasan lainnya belum dapat dinyatakan sebagai fakta yang terbukti dan masih harus diuji melalui pemeriksaan saksi, bukti medis, serta hasil penyelidikan aparat yang berwenang.
Bagi keluarga, penjelasan mengenai dugaan keracunan alkohol belum cukup untuk menjawab seluruh pertanyaan yang muncul. Mereka berharap penyebab kondisi korban dapat diungkap secara objektif berdasarkan hasil pemeriksaan medis dan bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Orang tua korban bahkan telah datang ke Bintuni untuk mengetahui perkembangan kondisi anak mereka sekaligus memantau penanganan perkara tersebut.
Dengan meninggalnya Andi Syarif, keluarga berharap penyelidikan dapat mengungkap secara terang rangkaian peristiwa yang terjadi sebelum korban menjalani perawatan hingga akhirnya meninggal dunia.
DPRD MALUKU SEMPAT TERIMA ASPIRASI PMII
Sebelum kabar duka tersebut, kasus yang menimpa Andi Syarif telah mendapat perhatian DPRD Maluku.
Pada Senin (12/10/2026), sejumlah anggota DPRD Maluku menerima aspirasi mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kota Ambon yang menggelar demonstrasi untuk mendesak pengusutan dugaan penganiayaan terhadap prajurit asal Maluku tersebut.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Maluku, Mu’min Refra, menyatakan aspirasi mahasiswa akan ditindaklanjuti melalui koordinasi kelembagaan dengan pihak-pihak terkait.
Sementara itu, anggota Komisi I DPRD Maluku, Ismail Marsabessy, menyampaikan perlunya komunikasi dengan jajaran TNI, termasuk Pangdam XV/Pattimura dan Pangdam XVIII/Kasuari, guna memperoleh penjelasan mengenai kronologi kejadian dan perkembangan penanganan perkara.
Anggota Komisi I lainnya, Hasyim Rahayaan, menekankan pentingnya dokumen medis dan bukti pendukung agar langkah yang diambil DPRD memiliki dasar yang jelas. Dukungan juga disampaikan Ketua Fraksi PKS DPRD Maluku, Rostina.
Dalam materi aksi PMII, disebutkan bahwa hasil CT scan kepala korban di RSUD Bintuni pada 3 Oktober 2026 menunjukkan adanya pendarahan intrakranial, edema otak, serta pergeseran garis tengah otak.
Informasi medis tersebut menjadi salah satu dasar desakan agar kasus ini ditangani secara serius. Meski demikian, keterkaitan temuan medis dengan dugaan tindak kekerasan tetap harus dipastikan melalui pemeriksaan dan pembuktian oleh pihak berwenang.
KELUARGA MENUNGGU KEJELASAN DAN KEADILAN
Meninggalnya Pratu Andi Syarif Bugis membuat pengungkapan kasus ini semakin penting bagi keluarga yang ditinggalkan. Di tengah persiapan pemulangan jenazah ke Negeri Tehua, keluarga masih berharap memperoleh jawaban yang jelas mengenai apa yang sebenarnya terjadi terhadap anggota keluarga mereka.
Keluarga sebelumnya meminta POM Bintuni, POM Pusat, dan POM Kodam XVIII/Kasuari memberikan perhatian terhadap perkara tersebut. Mereka berharap seluruh pihak yang mengetahui kejadian diperiksa dan setiap bukti yang relevan ditelusuri secara profesional.
Kini, selain mengurus pemulangan jenazah untuk dimakamkan di kampung halaman, keluarga menaruh harapan pada proses penyelidikan yang mampu mengungkap rangkaian peristiwa secara transparan.
Mereka menginginkan agar penyebab kematian korban dapat dijelaskan berdasarkan hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan. Jika ditemukan pelanggaran hukum, pihak yang terbukti bertanggung jawab diharapkan diproses sesuai ketentuan yang berlaku.(*)








