AkuratMaluku.com – Dari Tulehu, Maluku, tujuh santri bersiap menapaki perjalanan pendidikan ke salah satu pusat studi Islam paling bergengsi di dunia. Tujuh santri dan santriwati Pondok Modern Tulehu, masing-masing dari Darul Qur’an (DQ) Al Anwariyah dan DM Rahmatullah Tulehu, resmi dilepas menuju Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Pelepasan dilakukan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku, H. Yamin, usai memimpin upacara Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Kompleks Pondok Modern Tulehu DQ Al Anwariyah, Kamis (22/10/2026).
Ketujuh santri dan santriwati tersebut yakni Nurul Assyifatul Biqolbi Lya, Siti Fadila Slamet, Nuraini Ibrahim Ngofangare, Nurul Irmawati Sahupala, Muhammad Hamsen Waliulu, Yusril Fachman Sialana, dan Aditya Rasta Warman.
Keberangkatan mereka menjadi catatan penting bagi pendidikan pesantren di Maluku. Apalagi, capaian tersebut menunjukkan bahwa santri dari daerah kepulauan di kawasan timur Indonesia mampu bersaing dan menembus jenjang pendidikan internasional.
Kakanwil Kemenag Maluku H. Yamin mengatakan, pengembangan sumber daya manusia menjadi salah satu hal penting yang harus terus diperkuat, termasuk di lingkungan pesantren. Santri, menurutnya, tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik dan keagamaan, tetapi juga harus mampu menghadapi perkembangan teknologi dan tantangan global.
“Yang perlu dilakukan Kementerian Agama adalah bagaimana mengembangkan sumber daya agar mereka mampu mengembangkan diri menghadapi tantangan era globalisasi dan perkembangan teknologi,” kata Yamin.
Selain penguatan sumber daya manusia, Yamin mendorong para santri untuk memiliki kemampuan inovasi dan kepekaan sosial. Ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan diharapkan dapat diterapkan dan memberi manfaat bagi masyarakat ketika mereka kembali ke daerah.
“Santri juga harus mampu melaksanakan tugas-tugas yang sifatnya inovatif. Kemudian dari sisi sosiokultural, mereka harus mampu beradaptasi dengan masyarakat di lingkungan tempat mereka berada,” ujarnya.
Menurut Yamin, keberhasilan pendidikan santri pada akhirnya tidak hanya diukur dari pencapaian pribadi, tetapi juga dari seberapa besar kontribusi yang mampu diberikan kepada lingkungan, daerah, bahkan Indonesia secara umum.
“Harapan kita, sebagaimana harapan orang tua mereka, agar mereka memberikan dampak bagi lingkungan, bagi negara, bahkan bagi Indonesia secara umum. Mereka harus mampu menciptakan sesuatu yang berdampak bagi masyarakat,” tegasnya.
Selain melepas tujuh santri tersebut, Kakanwil Kemenag Maluku juga menyalurkan bantuan mushaf Al-Qur’an kepada sejumlah imam masjid di Negeri Tulehu.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren DQ Al Anwariyah, Ustaz Reza A. Briliansyah, menyebut keberangkatan tujuh santri tersebut sebagai langkah perdana dan menjadi sejarah penting bagi pesantren yang dipimpinnya.
“Yang berhasil ke luar negeri ini baru perdana buat kami. Ini merupakan langkah awal bagi pesantren, khususnya anak-anak di pondok pesantren, agar mereka bisa mengikuti jejak kakak-kakaknya. Mereka membuka jalan buat adik-adiknya,” ujar Reza.
Ia mengungkapkan, keberhasilan tersebut diharapkan menjadi penyemangat bagi santri-santri lainnya. Terlebih, dari tujuh santri yang lolos, dua di antaranya berhasil meraih predikat Mumtaz A atau A+, sementara lima lainnya memperoleh nilai A.
“Alhamdulillah, dari tujuh orang tadi, dua lulus dengan predikat Mumtaz A atau A+, sedangkan lima sisanya mendapatkan nilai A. Ini menjadi penyemangat bagi santri-santri di bawahnya,” katanya.
Reza berharap, para santri yang melanjutkan pendidikan di Al-Azhar tidak sekadar mengejar keberhasilan akademik. Mereka diharapkan kembali membawa ilmu dan memberikan kontribusi bagi masyarakat Maluku.
“Harapan kami, mereka bukan hanya sekadar belajar, tetapi pulang untuk umat yang ada di Maluku, khususnya. Apalagi sekarang zamannya mulai menghadapi degradasi moral dan berbagai tantangan lainnya,” ungkapnya.
Menurut Reza, keberhasilan tujuh santri tersebut merupakan hasil dari perpaduan kekuatan, ikhtiar, doa dan usaha. Ia menilai capaian itu sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan geografis tidak menjadi penghalang bagi anak-anak Maluku untuk meraih pendidikan hingga ke tingkat internasional.
“Insya Allah, dengan kekuatan, ikhtiar, doa dan usaha, bisa menghasilkan sesuatu yang sangat memuaskan,” ujarnya.
Ia juga berharap pemerintah, khususnya Kementerian Agama Provinsi Maluku, terus memberikan perhatian terhadap perkembangan pesantren dan santri di daerah.
“Harapan kami, santri tidak hanya jadi anak tiri, tetapi menjadi anak kandung yang tetap diperhatikan oleh pemerintah dan Kementerian Agama Provinsi Maluku,” tegas Reza.
Menurutnya, perhatian tersebut penting agar lembaga pendidikan Islam di Maluku dapat berkembang dan memberikan ruang lebih besar bagi santri untuk mengembangkan potensi mereka. Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi simbol pendidikan keagamaan, tetapi benar-benar menjadi pusat lahirnya generasi yang mampu memberi manfaat bagi masyarakat.
Keberangkatan tujuh santri ke Al-Azhar Kairo pun diharapkan menjadi awal dari semakin terbukanya akses pendidikan internasional bagi santri Maluku, sekaligus membuktikan bahwa dari Tulehu, anak-anak Maluku juga mampu melangkah menuju panggung dunia.(*)








