AkuratMaluku.com – Stadion Mandala Karang Panjang Ambon bakal menjadi pusat perhatian dalam rangkaian pembinaan umat di Maluku. Sebanyak 15.000 umat ditargetkan ambil bagian dalam Maluku Bermazmur pada 22 Oktober 2026, setelah sehari sebelumnya digelar seminar pimpinan organisasi keagamaan yang menghadirkan pembicara dari lima negara, yakni Nigeria, Belanda, Inggris, Spanyol, dan Korea Selatan.
Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kristen Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Maluku, Stepanus Tia, S.E., M.Pd., mengatakan kedua agenda tersebut menjadi bagian penting dari program pembinaan umat yang digelar melalui kolaborasi Kemenag dengan lembaga dan organisasi keagamaan di Maluku.
Seminar pimpinan organisasi keagamaan dijadwalkan berlangsung pada 21 Oktober 2026. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama Kemenag Maluku dengan Badan Musyawarah Antar Gereja (BAMAG) serta unsur lembaga keagamaan Kristen lainnya.
Tidak hanya melibatkan pimpinan organisasi keagamaan di daerah, seminar tersebut juga menghadirkan perspektif internasional melalui lima pembicara dari lima negara. Mereka berasal dari Nigeria, Belanda, Inggris, Spanyol, dan Korea Selatan.
“Kegiatan ini merupakan kolaborasi Kementerian Agama dengan lembaga keagamaan. Ada seminar bagi pimpinan-pimpinan organisasi keagamaan,” ujar Stepanus, Selasa (20/10//26).
Sehari setelah seminar, Maluku Bermazmur akan digelar di Stadion Mandala Karpan. Kegiatan tersebut dirancang sebagai perhelatan bernuansa oikumenis yang mempertemukan umat Kristen dari berbagai denominasi, termasuk umat Katolik.
Stepanus mengatakan Maluku Bermazmur tidak sekadar menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga momentum memperkuat persaudaraan dan kebersamaan. Menurutnya, perbedaan denominasi maupun tata cara ibadah tidak boleh menjadi penghalang untuk membangun persatuan.
“Kita sama-sama percaya kepada Tuhan, meskipun cara beribadah berbeda. Karena itu, partisipasi umat dalam Maluku Bermazmur menjadi bagian dari kebersamaan,” katanya.
Dengan target sekitar 15.000 peserta, pelaksanaan Maluku Bermazmur dipersiapkan melalui kerja sama dengan lembaga keagamaan serta dukungan para donatur. Kegiatan tersebut tidak sepenuhnya bergantung pada anggaran pembinaan Bimas Kristen yang hingga kini belum tersedia.
Panitia juga telah mengundang Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen untuk membuka kegiatan Maluku Bermazmur. Namun, kehadiran Dirjen masih menyesuaikan dengan agenda pimpinan Kementerian Agama.
Rangkaian pembinaan kemudian berlanjut pada Senin, 26 Oktober 2026, melalui Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang menyasar anggota TNI, Polri, ASN Kristen beserta keluarga pada pagi hari, serta pemuda dan mahasiswa pada sore hari.
Kedua kegiatan tersebut direncanakan berlangsung di Gedung Baileo Oikumene Ambon, dengan target masing-masing sekitar 1.000 peserta dan juga akan dibagikan alkibat kepada para peserta.
Dalam rangkaian agenda itu, Bimas Kristen juga mendorong penguatan literasi kitab suci melalui pembacaan Alkitab bersama dan pembagian Alkitab kepada peserta. Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman keagamaan sekaligus nilai spiritual umat.
Stepanus mengungkapkan, dukungan Alkitab berasal dari seorang donatur di Korea Selatan yang merencanakan bantuan sebanyak 12.000 eksemplar. Dari jumlah tersebut, sebanyak 7.000 eksemplar telah terealisasi dan disalurkan ke 11 kabupaten/kota di Maluku.
Di balik rangkaian agenda besar tersebut, Bimas Kristen menghadapi keterbatasan anggaran. Stepanus mengatakan hingga saat ini belum terdapat alokasi khusus untuk kegiatan pembinaan umat.
Sementara anggaran biaya tambahan (ABT) yang diharapkan dapat menunjang program masih dalam proses dan belum terealisasi.
Kondisi tersebut membuat Bimas Kristen memperkuat pola kolaborasi dengan organisasi keagamaan, pimpinan gereja, mitra dan donatur agar pelayanan kepada umat tetap berjalan.
Salah satu bentuk kolaborasi dilakukan melalui sosialisasi Surat Tanda Lapor (STL) bagi organisasi dan lembaga keagamaan di Provinsi Maluku. Kegiatan tersebut melibatkan sejumlah pimpinan organisasi gereja, di antaranya pengurus daerah GSJA, GPdI dan pimpinan gereja lainnya.
Melalui kerja sama tersebut, berbagai kegiatan sosialisasi telah menjangkau sejumlah wilayah di Maluku, termasuk Maluku Tengah dan Maluku Tenggara.
“Dalam kondisi efisiensi anggaran, kami tetap berupaya menjalankan pembinaan melalui kolaborasi dengan organisasi keagamaan dan pimpinan gereja. Kami membangun komunikasi dan bekerja bersama agar program pembinaan tetap terlaksana,” jelas Stepanus.
Ia menegaskan, keterbatasan anggaran bukan alasan untuk menghentikan pelayanan. Justru, menurut dia, sinergi antara Kemenag, gereja, organisasi keagamaan, mitra dan masyarakat menjadi kunci agar program pembinaan umat tetap berjalan.
Melalui rangkaian Seminar, Maluku Bermazmur dan KKR, Bimas Kristen berharap pembinaan umat tidak hanya memperkuat kehidupan spiritual, tetapi juga mempererat persaudaraan, toleransi, serta kerukunan di tengah keberagaman masyarakat Maluku.(*)








