AkuratMaluku.com — Kebutuhan air bersih menjadi persoalan penting di MTsN Ambon yang harus melayani lebih dari 1.000 siswa. Di tengah keterbatasan pasokan air, harapan untuk mendapatkan sumber air alternatif kini mulai terbuka setelah tim dari Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) bersama tim Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku, melakukan survei potensi air tanah di kawasan madrasah, Kebuncengkih, Kecamatan Sirimau Kota Ambon.
Survei tersebut dilakukan melalui metode geolistrik untuk mendeteksi potensi dan kondisi air bawah tanah. Namun, hasil survei belum dapat langsung memastikan apakah lokasi tersebut memiliki debit air yang mencukupi. MTsN Ambon kini masih menunggu hasil analisis tim dari pusat sebelum menentukan langkah pengeboran.
Plt Kepala MTsN Ambon, Yasmin Kamsurya mengatakan, survei tersebut berawal dari kebutuhan air bersih yang semakin besar seiring jumlah siswa dan berbagai aktivitas keagamaan serta program sekolah.
Menurutnya, kebutuhan air tidak hanya digunakan untuk aktivitas sehari-hari siswa dan tenaga pendidik, tetapi juga mendukung program keagamaan seperti salat Dhuha, salat Zuhur hingga salat Ashar berjamaah.
“Kondisi air bersih memang menjadi perhatian kami. Dengan jumlah siswa yang banyak, kebutuhan air juga cukup besar. Apalagi ada program sekolah seperti salat Dhuha, salat Zuhur dan salat Ashar yang tentu membutuhkan ketersediaan air yang memadai,” ujar Yasmin, Senin (5/10//26).

Selama ini, keterbatasan pasokan air dari jaringan yang tersedia membuat pihak madrasah harus mencari solusi alternatif. Salah satunya dengan menggunakan pasokan air tambahan (Pembelian Air Tanki) untuk memenuhi kebutuhan sekolah.
“Penguatan air PAM yang ada kami rasakan belum bisa maksimal. Selama ini kami harus membackup dengan air tambahan dan kebutuhannya cukup banyak,” katanya.
Kondisi tersebut kemudian mendorong pihak MTsN Ambon berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku untuk mencari solusi jangka panjang. BWS kemudian merespons dengan melakukan pendeteksian potensi sumber air tanah menggunakan peralatan geolistrik milik Ditjen SDA Kementerian Pekerjaan Umum.
Survei dilakukan dengan bentangan sekitar 600 meter untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi bawah permukaan tanah dan potensi keberadaan sumber air. Pelaksanaannya juga menghadapi tantangan teknis karena tim harus melakukan pengukuran pada kawasan yang bersinggungan dengan jalan raya yang cukup ramai.
Meski demikian, survei akhirnya dapat dilaksanakan. Hasil pengukuran tersebut selanjutnya dianalisis oleh tim dari pusat di Jakarta.
Yasmin mengatakan, pihak madrasah masih menunggu hasil analisis tersebut untuk memastikan apakah potensi air yang terdeteksi dapat memenuhi kebutuhan MTsN Ambon.
“Kami sementara menunggu hasil yang diproses dan dianalisis oleh tim dari pusat. Dari hasil deteksi itu nantinya akan diketahui apakah memungkinkan dilakukan pengeboran dan apakah debit airnya dapat memenuhi kebutuhan kami,” jelasnya.
Ia menyebutkan, proses analisis diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga minggu hingga satu bulan. Karena itu, pihak madrasah belum dapat memastikan kapan pengeboran akan dilakukan sebelum hasil survei tersebut keluar.
“Kalau hasilnya positif dan debit airnya sesuai dengan yang kami harapkan, tentu kami sangat berharap proses pengeboran bisa segera ditindaklanjuti. Kami masih menunggu hasil analisisnya,” ujarnya.
Bagi MTsN Ambon, keberadaan sumber air alternatif dinilai akan sangat membantu aktivitas pendidikan. Dengan jumlah siswa lebih dari 1.000 orang, kebutuhan air bukan hanya untuk sanitasi, tetapi juga mendukung berbagai aktivitas pembelajaran dan program keagamaan di lingkungan madrasah.
Yasmin menyampaikan apresiasi kepada Kepala BWS Maluku Ruslan Malik dan Ditjen SDA yang telah merespons kebutuhan tersebut. Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung fasilitas pendidikan.
“Kami atas nama keluarga besar MTsN Ambon menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas perhatian serta kepedulian Kepala BWS Provinsi Maluku. Ini merupakan kolaborasi yang sangat baik untuk membantu dunia pendidikan, khususnya dalam memenuhi kebutuhan dasar di sekolah,” katanya.
Ia berharap hasil analisis survei dapat memberikan kepastian mengenai potensi air tanah di kawasan madrasah. Jika hasilnya memungkinkan, pengeboran diharapkan menjadi solusi untuk memperkuat ketersediaan air bersih MTsN Ambon sehingga kegiatan belajar, ibadah, dan aktivitas sekolah dapat berjalan lebih optimal.
“Harapan kami tentu hasilnya positif dan debit airnya mencukupi. Kami menunggu proses analisis dari tim pusat dan berharap jika memungkinkan, tindak lanjutnya dapat segera dilakukan,” tandas Yasmin.(*)








