AMBONPENDIDIKAN

Ini Cerita Dewi, Guru MAN Ambon yang Antarkan Siswa ke Panggung Nasional

×

Ini Cerita Dewi, Guru MAN Ambon yang Antarkan Siswa ke Panggung Nasional

Sebarkan artikel ini

AkuratMaluku.com — Prestasi menuju tingkat nasional tidak dibangun dalam semalam. Di balik keberhasilan Nariman Nuh Kayan, siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Ambon yang lolos ke Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) tingkat nasional bidang Geografi, ada proses pembinaan panjang, latihan berulang, dan perjuangan menghadapi keterbatasan fasilitas.

Guru pembina mata pelajaran Geografi MAN Ambon, Dewi Setiyowati, S.Pd., mengungkapkan, keberhasilan Nariman merupakan buah dari pembinaan yang dimulai sejak siswa tersebut duduk di kelas X. Bukan menunggu kompetisi diumumkan, Dewi lebih dahulu membangun kemampuan akademik, melatih daya analisis, dan membiasakan peserta didiknya mengikuti berbagai kompetisi.

Nariman, yang kini duduk di kelas XI-2, menjadi salah satu siswa MAN Ambon yang berhasil melewati seleksi hingga berhak melaju ke tingkat nasional. Bagi Dewi, pencapaian tersebut bukan sekadar kebanggaan sekolah, melainkan bukti bahwa pembinaan yang konsisten dapat membuka jalan bagi siswa untuk bersaing di tingkat lebih tinggi, meski dihadapkan pada keterbatasan sumber belajar.

“Kami tidak menunggu ada lomba baru melakukan pembinaan. Sejak kelas X, Nariman sudah saya bimbing dan diikutsertakan dalam berbagai kompetisi, baik di dalam maupun di luar Maluku, secara daring maupun luring. Itu menjadi bagian dari latihan agar dia terbiasa menghadapi soal dan suasana kompetisi,” ungkap Dewi kepada media ini, Senin (12/10/26).

Menurutnya, pembinaan dilakukan secara bertahap dan menyesuaikan kebutuhan siswa. Pada masa persiapan biasa, latihan dapat dilakukan sekitar sekali dalam sepekan. Namun, ketika kompetisi semakin dekat, intensitas pembelajaran ditingkatkan, bahkan dari pagi hingga sore hari.

Dewi menjelaskan, salah satu strategi utama yang diterapkannya adalah membiasakan siswa memahami persoalan, bukan sekadar menghafal materi pelajaran.

Dalam kompetisi Geografi, peserta dituntut mampu membaca fenomena, memahami hubungan antargejala alam, serta menganalisis persoalan berdasarkan konsep dan data. Karena itu, latihan soal menjadi bagian penting dalam pembinaan, terutama soal-soal yang disesuaikan dengan kisi-kisi kompetisi.

“Saya lebih menekankan kemampuan mereka menganalisis soal. Jadi, bukan hanya menghafal. Anak-anak harus memiliki kemampuan literasi, memahami persoalan, dan mampu berpikir kritis ketika menghadapi pertanyaan,” jelasnya.

Pendekatan tersebut juga diperkuat dengan pembahasan fenomena alam yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Siswa diajak menghubungkan teori Geografi dengan berbagai peristiwa nyata sehingga pemahaman mereka tidak berhenti pada materi yang tertulis di buku.

Menurut Dewi, kemampuan menghubungkan konsep dengan fenomena aktual menjadi modal penting untuk menghadapi soal-soal yang membutuhkan penalaran lebih mendalam.

Pembinaan yang dilakukan Dewi memiliki pendekatan tersendiri. Selain mengasah kemampuan akademik, ia juga mendorong siswa memahami keterkaitan fenomena geografis dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang relevan.

Pendekatan ini dinilai penting karena materi kompetisi OMI juga dapat memuat unsur keislaman, termasuk istilah atau kosakata berbahasa Arab yang berkaitan dengan fenomena alam.

Dewi mengaku bukan berlatar belakang pendidikan agama. Namun, ia berupaya membantu siswa mempersiapkan diri dengan mengenali kosakata bahasa Arab yang relevan serta memahami kaitannya dengan fenomena Geografi.

“Saya mengarahkan anak-anak untuk mencari ayat-ayat yang berkaitan dengan fenomena Geografi. Saya juga mengingatkan mereka tentang kata kunci bahasa Arab yang berhubungan dengan materi, sehingga ketika menemukan soal seperti itu, mereka sudah memiliki gambaran untuk memahaminya,” tuturnya.

Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan siswa agar lebih siap menghadapi variasi soal dalam kompetisi.

Dewi menilai Nariman memiliki modal penting berupa pengalaman berkompetisi sejak jenjang pendidikan sebelumnya. Saat masih bersekolah di madrasah tsanawiyah (MTs), Nariman juga pernah mewakili Maluku dalam kompetisi tingkat nasional.

Pengalaman tersebut membuat Nariman tidak benar-benar memulai dari nol. Ia telah mengenal suasana kompetisi dan memiliki dasar pengetahuan yang dapat dikembangkan melalui pembinaan lanjutan.

Meski demikian, Dewi tidak ingin hanya mengandalkan pengalaman tersebut. Menjelang pelaksanaan OMI tingkat nasional, ia berencana memperkuat persiapan Nariman, terutama pada aspek praktik Geografi.

Menurutnya, penguasaan teori perlu diimbangi dengan keterampilan praktik, termasuk kemampuan melakukan perhitungan dan menerapkan konsep dalam penyelesaian persoalan Geografi.

“Kalau untuk teori, saya cukup yakin dengan kemampuannya karena persiapan sudah dilakukan sejak lama. Tetapi, untuk tingkat nasional, saya ingin lebih menekankan persiapan praktiknya, sebab teori dan praktik sama-sama penting,” katanya.

Dengan waktu persiapan yang relatif singkat menjelang kompetisi, pembinaan akan dilakukan lebih intensif agar Nariman semakin siap menghadapi tantangan di tingkat nasional.

Di balik proses pembinaan tersebut, Dewi mengakui terdapat tantangan yang tidak ringan. Ketersediaan buku referensi dan fasilitas pendukung di sekolah masih menjadi keterbatasan yang harus disiasati.

Kondisi itu membuatnya harus lebih aktif mencari bahan belajar tambahan, termasuk membeli buku secara daring dan mengumpulkan referensi lain yang dapat digunakan untuk memperkaya materi latihan.

Ia menyadari bahwa kesempatan memperoleh fasilitas belajar tidak selalu sama antara satu daerah dengan daerah lainnya. Karena itu, keterbatasan yang ada tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan upaya meningkatkan kemampuan siswa.

“Sebagai guru, saya berusaha semaksimal mungkin. Kalau referensi di sekolah masih kurang, saya mencari sendiri dan membeli buku secara daring untuk menunjang persiapan anak-anak,” ujarnya.

Namun, bagi Dewi, hal yang paling menguatkan dirinya bukan semata-mata tersedianya bahan belajar, melainkan semangat peserta didik yang terus menyala selama proses pembinaan.

Ia mengaku terharu melihat kesungguhan siswa yang tetap berlatih dan berusaha meski menghadapi keterbatasan. Semangat itulah yang membuatnya ikut terpacu untuk memberikan bimbingan terbaik.

“Yang membuat saya terharu adalah semangat anak-anak luar biasa. Dengan segala keterbatasan, mereka tetap mau belajar dan berusaha. Itu yang membuat kami sebagai guru juga semakin terpacu untuk mendampingi mereka semaksimal mungkin,” ungkapnya.

Keberhasilan Nariman menembus OMI tingkat nasional menjadi capaian penting bagi MAN Ambon. Pada seleksi tingkat kabupaten/kota, siswa madrasah tersebut juga meraih juara pertama, kedua, dan ketiga, sebagaimana disampaikan Dewi.

Capaian itu memperlihatkan adanya potensi akademik yang perlu terus dikembangkan melalui pembinaan berkelanjutan, dukungan sekolah, serta kesempatan berkompetisi yang lebih luas.

Bagi Dewi, lolos ke tingkat nasional bukanlah garis akhir. Justru, tahap tersebut menjadi tantangan baru yang menuntut persiapan lebih matang, terutama dalam memperkuat kemampuan praktik dan ketajaman analisis.

Ia berharap Nariman dapat memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya, sekaligus membawa nama MAN Ambon dan Provinsi Maluku untuk bersaing dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Perjalanan Nariman juga menjadi gambaran bahwa prestasi pendidikan tidak hanya ditentukan oleh fasilitas yang tersedia. Konsistensi pembinaan, kemauan belajar, kreativitas guru dalam mencari referensi, serta semangat siswa menjadi bagian penting dalam membuka jalan menuju kompetisi nasional.

Kini, dengan bekal pembinaan sejak kelas X dan pengalaman berkompetisi sebelumnya, Nariman bersiap menghadapi tantangan berikutnya. Sementara Dewi terus mendampingi, memastikan setiap kesempatan belajar menjadi bekal berharga bagi anak didiknya untuk melangkah lebih jauh.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *