AMBONOPINI

SURAT TERBUKA KEPADA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

×

SURAT TERBUKA KEPADA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Sebarkan artikel ini

Permohonan Kebijakan Negara untuk Penetapan Gelar Pahlawan Nasional Abdoel Moethalib Sangadji
Kepada Yth.

Presiden Republik Indonesia
Bapak Jenderal TNI (Purn.) H. Prabowo Subianto
di Istana Negara, Jakarta

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua,
Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan.

Merdeka!

Bapak Presiden yang kami hormati, yang mencintai sejarah dan masa depan bangsa ini,
Perkenankan saya, Muhammad Kamil Mony, Founder Abdoel Moethalib Sangadji (AMS) Institute, memberanikan diri mengetuk pintu hati Bapak melalui untaian kata dalam surat terbuka ini.

Surat ini kami layangkan bukan atas dasar pamrih pribadi, melainkan sebagai bentuk pertanggungjawaban moral terhadap sejarah, serta manifestasi kerinduan kolektif masyarakat Maluku akan hadirnya keadilan sejarah bagi pahlawan mereka.

Kami mendoakan agar Bapak Presiden senantiasa dilimpahkan kesehatan, kekuatan batin, serta kebijaksanaan tanpa batas oleh Allah SWT dalam menakhodai kapal besar Republik Indonesia menuju gerbang kemakmuran dan kehormatan yang sejati.

Dalam lembaran sejarah yang autentik, Abdoel Moethalib Sangadji, atau yang pada masa pergerakan nasional dijuluki oleh kawan-kawan seperjuangannya sebagai “Jago Toea”, bukanlah nama asing.

Beliau berdiri bahu-membahu bersama tokoh-tokoh besar seperti H.O.S. Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, K.H. Ahmad Dahlan, K.H. Abdul Wahab Hasbullah, serta para Proklamator, Bung Karno dan Bung Hatta, dalam menyalakan api kesadaran berbangsa.

Rekam jejak perjuangan beliau membentang luas tanpa sekat geografis. Lahir di bumi Maluku, tepatnya di Negeri Rohomoni, Pulau Haruku, beliau melakukan safari pergerakan politik dan dakwah lintas pulau, mulai dari belantara Kalimantan, Sulawesi, hingga memimpin simpul-simpul perjuangan di tanah Jawa.

Beliau mengorbankan segalanya demi satu tujuan: melihat fajar kemerdekaan Indonesia terbit murni tanpa bayang-bayang kolonialisme.

Bapak Presiden yang bijaksana,

Melalui surat ini, izinkan kami menyampaikan dengan tegas, namun tetap dalam suasana penuh kedamaian batin, bahwa seluruh proses administratif, kajian akademik, seminar nasional, hingga verifikasi faktual terkait pengusulan Gelar Pahlawan Nasional untuk A.M. Sangadji telah diselesaikan dengan sangat baik. Dokumen-dokumen legal dan konstitusional telah diproses sesuai dengan mekanisme serta regulasi yang berlaku di Republik ini.

Namun, tahun demi tahun berganti, harapan sejarah ini seolah terus tertunda di koridor birokrasi pusat. Bagi kami, persoalan ini bukan sekadar tentang selembar piagam atau gelar seremonial. Ini adalah tentang restorasi martabat sejarah.

Ini adalah pesan bagi generasi muda di pelosok Maluku dan Indonesia Timur bahwa negara tidak pernah melupakan anak kandungnya yang telah menyerahkan jiwa dan raga demi Ibu Pertiwi.

Oleh karena itu, di bawah kepemimpinan Bapak Presiden yang dikenal berani mengambil keputusan strategis demi kebenaran, kami menaruh harapan yang sangat besar.

Kami memohon dengan segala kerendahan hati agar Bapak berkenan memberikan perhatian khusus terhadap usulan tersebut dan menetapkan Abdoel Moethalib Sangadji sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia sesuai dengan kewenangan konstitusional dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Bapak Presiden yang dekat di hati rakyat,

Surat ini kami gubah dengan bahasa yang menyejukkan, sebab kami dididik oleh warisan nilai Islam dan adat Maluku untuk mengedepankan tabayun, kesantunan, serta rasa hormat kepada pemimpin negara.

Namun, di balik kelembutan kata-kata ini, terdapat ketegasan sikap dan komitmen yang tidak akan pernah luntur dalam memperjuangkan pengakuan atas jasa dan perjuangan putra terbaik Maluku.
Menjelang momentum sakral Hari Pahlawan Tahun 2026, izinkan kami, anak-anak Ibu Pertiwi dari timur Indonesia, khususnya Maluku, mengetuk pintu hati dan kebijaksanaan Bapak.

Kami datang membawa secercah harapan, rasa hormat yang mendalam, dan komitmen kebangsaan yang tak kunjung padam.

Beberapa pekan ke depan, keputusan negara akan menorehkan sejarah penting melalui penetapan Gelar Pahlawan Nasional Tahun 2026. Kami memahami betul bahwa tugas ini bukan sekadar rutinitas administratif atau formalitas tahunan.

Setiap nama yang ditetapkan merupakan perwujudan dari utang budi peradaban yang dipikul oleh bangsa ini.

Pahlawan bukan hanya mereka yang gugur di medan laga. Pahlawan adalah mereka yang menghibahkan seluruh hidupnya demi tegaknya kedaulatan, terpeliharanya persatuan, dan terangkatnya martabat kemanusiaan bangsa Indonesia.

Ketika Bapak menetapkan gelar tersebut, Bapak sedang mengirimkan pesan kuat kepada generasi muda bahwa bangsa ini tidak pernah melupakan tetes keringat, pengorbanan, dan air mata para pendahulunya.

Bapak Presiden yang kami banggakan,

Di tengah dinamika modernisasi global yang melanda, Indonesia hari ini sangat merindukan keteladanan.

Kami percaya, proses penyaringan dan penetapan Gelar Pahlawan Nasional tahun ini telah dilakukan dengan penuh ketelitian, objektivitas, serta bebas dari kepentingan politik sesaat.

Kami mendukung penuh sikap tegas Bapak dalam menyaring tokoh-tokoh yang benar-benar dapat menjadi kompas moral bangsa.

Namun, di atas segalanya, kami memohon dengan sangat santun agar gelar tertinggi ini juga menjangkau mereka yang memiliki kontribusi besar bagi Republik, tetapi selama ini selalu tersisih dalam proses pengakuan legal-formal negara.

Kami percaya, di tangan Bapak, rasa keadilan sosial dan keadilan sejarah bagi seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat diwujudkan secara merata.

Warisan moral perjuangan para pendahulu bangsa, khususnya para perintis kemerdekaan, harus mendapatkan tempat yang adil dan terhormat dalam ingatan kolektif bangsa.

Bapak Presiden yang kami cintai,

Rakyat Maluku menanti keputusan Bapak dengan dada bergemuruh penuh haru. Melalui kebijaksanaan Bapak, mari kita buktikan bersama bahwa semboyan “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya” bukan sekadar slogan usang di dinding sekolah, melainkan sebuah janji suci yang hidup dalam sanubari setiap pemimpin negeri.

Sebelum menutup surat ini, kami haturkan terima kasih yang tak terhingga atas waktu dan kebaikan hati Bapak Presiden untuk membaca suara hati dari ufuk timur Indonesia ini.

Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, senantiasa merestui setiap langkah pengabdian Bapak untuk Indonesia Raya.

Wabillahi taufiq wal hidayah.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Jakarta, 6 Oktober 2026
Muhammad Kamil Mony
Founder Abdoel Moethalib Sangadji Institute

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *