AMBON

Rimbo Bugis: Pemuda Muhammadiyah Bukan Lagi Organisasi Yang Bergerak Dengan Kritik Ugal-Ugalan

×

Rimbo Bugis: Pemuda Muhammadiyah Bukan Lagi Organisasi Yang Bergerak Dengan Kritik Ugal-Ugalan

Sebarkan artikel ini

AkuratMaluku.com – Pemuda Muhammadiyah tidak lagi boleh terjebak pada pola gerakan yang hanya mengandalkan demonstrasi jalanan dan kritik tanpa arah. Organisasi kepemudaan Muhammadiyah itu dituntut naik kelas dengan melahirkan kader yang mampu masuk ke ruang-ruang strategis serta mengambil bagian langsung dalam proses pembangunan.

Pesan tegas tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Maluku, Rimbo Bugis, dalam sambutannya pada gelaran pembukaan Musyawarah Daerah (Musyda) Pemuda Muhammadiyah Kota Ambon, yang berlangsung di aula SMK Muhammadiyah Ambon, Senin (5/10/2026).

Rimbo menegaskan, Pemuda Muhammadiyah harus meninggalkan cara berpikir lama yang menempatkan organisasi sebatas sebagai kelompok yang turun ke jalan untuk menyampaikan kritik. Menurutnya, kritik tetap menjadi bagian dari fungsi kader, tetapi tidak boleh berhenti pada aksi demonstrasi tanpa dibarengi gagasan, kapasitas dan keberanian mengambil tanggung jawab.

“Pemuda Muhammadiyah bukan lagi organisasi yang harus bergerak dengan kritik ugal-ugalan,” tegas Rimbo.

Menurut dia, kader Pemuda Muhammadiyah saat ini harus mulai mempersiapkan diri menjadi pemuda negarawan. Artinya, kader tidak hanya mampu menyuarakan persoalan masyarakat, tetapi juga memiliki kapasitas untuk menawarkan solusi dan mengambil peran dalam penyelenggaraan pemerintahan maupun pembangunan.

Ia bahkan mendorong kader Pemuda Muhammadiyah untuk tidak takut memasuki arena kekuasaan selama dilakukan melalui proses yang demokratis dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.

“Bila perlu hari ini ada kader Pemuda Muhammadiyah yang mau menjadi calon wali kota Ambon atau bupati di daerah lain, kita harus bicara tentang bagaimana merebut kekuasaan,” katanya.

Rimbo menilai, gagasan tersebut bukan berarti Pemuda Muhammadiyah meninggalkan fungsi kontrol sosial. Sebaliknya, kader harus memperkuat kapasitas agar kritik yang disampaikan memiliki dasar, gagasan dan solusi yang dapat ditawarkan kepada pemerintah.

Karena itu, ia memperkenalkan pentingnya kepemimpinan transformatif di tubuh Pemuda Muhammadiyah. Kader tidak boleh hanya sibuk memikirkan posisi dalam struktur organisasi, tetapi harus mempersiapkan diri untuk bertransformasi menjadi pemimpin di berbagai sektor.

“Jangan hanya berpikir, ‘saya mau menjadi ketua Pemuda Muhammadiyah’. Kita harus berpikir lebih jauh bagaimana kader bisa bertransformasi,” ujarnya.

Rimbo juga menyinggung banyaknya kader Muhammadiyah yang telah berada di berbagai bidang, termasuk birokrasi dan politik. Potensi tersebut, kata dia, harus dikembangkan agar kader mampu menduduki ruang-ruang strategis sesuai kemampuan dan kompetensinya.

Dalam konteks Musyda Pemuda Muhammadiyah Kota Ambon, Rimbo berharap forum tersebut tidak hanya menghasilkan kepengurusan baru, tetapi juga melahirkan gagasan baru tentang arah gerakan organisasi ke depan.

Musyda, menurutnya, harus menjadi ruang untuk memperdebatkan dan merumuskan gagasan tentang masa depan Pemuda Muhammadiyah, bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan.

“Yang kita inginkan adalah wacana yang membuka ruang bagi kita untuk berdebat dan membicarakan arah gerakan ke depan sesuai dengan perkembangan yang ada,” katanya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *