AkuratMaluku.com – ANGGOTA Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Letjen TNI Marinir (Purn) Nono Sampono, menegaskan bahwa Pancasila tetap relevan sebagai fondasi kehidupan berbangsa di tengah perubahan zaman yang kian cepat. Penegasan itu disampaikan dalam Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan kepada pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UIN A.M. Sangadji Ambon, yang digelar di SD Negeri 4 Hative Besar, Kecamatan Teluk Ambon, Jumat (12/12/2025).
Dalam pemaparannya, Nono menempatkan Pancasila sebagai hasil perenungan sejarah panjang bangsa Indonesia. Ia menyebut Pancasila bukan sekadar teks normatif, melainkan kearifan lokal yang lahir dari pengalaman hidup masyarakat Nusantara yang majemuk. “Pancasila bukan dokumen mati. Ia lahir dari sejarah, dari upaya para pendiri bangsa merangkul perbedaan suku, agama, dan budaya. Jika nilai ini ditinggalkan, bangsa ini rentan terpecah,” ujarnya.

Nono menyandingkan perjalanan ideologi bangsa dengan dinamika global. Ia membandingkan Pancasila dengan liberalisme Barat dan komunisme Timur, seraya menegaskan bahwa Indonesia memilih jalan tengah yang menolak ekstremisme ideologis. Pengalaman runtuhnya komunisme di Eropa Timur, menurut dia, menjadi pelajaran penting bahwa ideologi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. “Negara yang tak mampu beradaptasi akan punah. Pancasila harus hidup dan terus dimaknai sesuai tantangan zaman,” katanya.
Di hadapan mahasiswa, Nono menegaskan bahwa Empat Pilar Kebangsaan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar slogan seremonial. Keempatnya, kata dia, harus menjadi pedoman praktis dalam kehidupan politik, hukum, dan sosial. Ia mendorong mahasiswa menjadikan Pancasila sebagai landasan berpikir yang terbuka terhadap perubahan, tanpa kehilangan jati diri bangsa.

Peran mahasiswa dan pemuda menjadi benang merah dalam sosialisasi tersebut. Nono mengingatkan bahwa perubahan besar dalam sejarah Indonesia kerap digerakkan oleh generasi muda. Karena itu, mahasiswa dituntut membangun kaderisasi dan kepemimpinan yang berkelanjutan. “Perubahan tidak lahir secara tiba-tiba. Ia lahir dari proses panjang dan kesadaran kolektif,” ujarnya.
Menutup pemaparannya, Nono menekankan bahwa menjaga Pancasila dan Empat Pilar bukan semata tugas elite politik, melainkan tanggung jawab seluruh warga negara. Mahasiswa, kata dia, perlu aktif mengawal kebijakan publik dengan kritik yang konstitusional dan substantif. “Pemuda adalah penentu masa depan NKRI. Dengan kesadaran sejarah dan tindakan nyata, Pancasila akan tetap hidup,” ujar Nono.(*)







