AkuratMaluku.com – Anggota DPD RI Letjen TNI Marinir (Purn) Nono Sampono menegaskan bahwa keberlangsungan Indonesia sebagai negara bangsa tidak terjadi secara kebetulan, melainkan ditopang oleh fondasi kuat yang dirumuskan para pendiri bangsa dan diwariskan lintas generasi. Penegasan itu disampaikannya dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan bersama Angkatan Muda di Gereja HOHERNAS Jemaat Sumber Kasih, Kudamati, Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon, Senin siang di Ambon (15/12/25).
Dalam pengantarnya, Nono mengajak peserta untuk memandang Empat Pilar Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai hasil kristalisasi perjalanan panjang sejarah bangsa. Ia mengutip pandangan akademisi luar negeri yang menyebut Indonesia sejatinya rentan runtuh, mengingat kompleksitas geografis, keragaman etnis, bahasa, dan budaya yang dimilikinya. Namun fakta menunjukkan Indonesia tetap bertahan hingga usia hampir 80 tahun.

Menurut Nono, daya tahan bangsa ditentukan oleh kemampuan negara untuk lahir, beradaptasi, dan bertahan (survive) menghadapi perubahan zaman. Ia mengingatkan bahwa sejarah Nusantara pernah mencatat kejayaan besar seperti Sriwijaya, namun runtuh karena gagal menyesuaikan diri dengan dinamika global. “Negara yang tidak mampu beradaptasi akan punah, seperti dinosaurus,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa Empat Pilar Kebangsaan merupakan modal utama bangsa Indonesia, bukan hanya untuk merebut kemerdekaan, tetapi juga untuk mempertahankannya. Setiap generasi, kata Nono, memiliki tanggung jawab sejarah untuk merawat nilai-nilai yang masih relevan, mengoreksi yang tidak sesuai, dan mewariskannya dalam kondisi yang lebih baik kepada generasi berikutnya.
Diskusi tersebut pun diharapkan menjadi ruang bebas bagi peserta untuk menilai kembali relevansi Empat Pilar dalam konteks globalisasi, perubahan politik pascareformasi, serta tantangan kebangsaan kontemporer, tanpa kehilangan akar sejarah bangsa.(*)







